Posted by: nengpeni on: Januari 30, 2011
Hampir sudah setahun gue menjomblo, tak nampak sana-sini seseorang yang membuat gue jatuh cinta. Ada beberapa mungkin yang sempat menarik hati, tapi menarik buat gue itu nggak cukup. Nggak sampai seminggu, dua minggu, bisa jadi hilang begitu saja rasa yang bisa bikin jantung berdebar-debar nggak karuan meski baru memikirkan orangnya hehehe. Bukan salah mereka juga yang buat gue hilang feeling, tapi memang sepertinya chemistry di guenya belum dapat. Rasanya sudah bosan sekali kalau kemana-mana melihat orang jatuh cinta dan gue merasakan kebal dengan yang namanya “cinta”. Playlist lagu di Ipod juga udah penuh sama lagu-lagu patah hati yang lama-lama bosan didengar. Ujung-ujungnya sambil berdoa dan mencari suatu hari gue bagaikan mendapat ilham atau pencerahan dari doa selama ini: jatuh cinta lagi.
Sulit mendefinisikan perbedaan suka, obsesi dan cinta kalau gue tertarik sama orang. Kadang ketika gue cerita dengan antusiasnya tentang si Mr X ini ke sahabat-sahabat dekat gue, nggak lama kemudian ketika mereka bertanya apa kabar perasaan gue, gue dengan tak semangat menjawab sudah pudar, dan nggak tahu kenapa alasannya. Akhirnya gue berhati-hati dalam mendeskripsikan kata jatuh cinta dan menaksir seseorang tiap gue ada ‘rasa’ dengan seorang laki-laki.
Ada hal yang paling unik yang gue sadarin baru-baru ini, bahwa kadang kita nggak akan pernah terpikir untuk menyukai atau jatuh cinta dengan orang yang sama sekali nggak pernah ada di bayangan kita. Termasuk gue yang lagi suka sama orang yang sebenernya telah beberapa kali gue bertemu, dan gue tahu dia. Gue nggak jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dia, tapi entah yang keberapa kali namun saat itu pas banget ada chemistrynya. Gue juga makin sadar kalau gue bener-bener suka sama orang ini ketika perasaan itu telah bertahan lebih dari 3 minggu, ibarat kayak penyakit ada fase akut dan kronis, gue baru yakin suka sama orang dan nggak cuma kesepian semata ketika fase akut sudah lewat, lebih dari 3 minggu.
Masalah kemudian timbul kalau kita lagi suka sama seseorang, apa orangnya sudah kenal kita apa belum, apa dia sedang ada yang ngedeketin, udah punya pasangan/belum, atau malah dia lagi sedang tidak ingin berkomitmen? Pasti itu yang bikin h2c (harap-harap cemas) dan membuat keadaan naksir seseorang seperti sedang menanti keluarnya nomer undian pemenang, bagi gue itu adalah salah satu tantangan dan menyenangkan
Kenapa gue bilang menyenangkan, jujur gue udah bosan dengan kehidupan perasaan yang gitu-gitu aja, nggak pernah merasa penasaran sama seseorang, bahkan beberapa bulan terakhir sebelumnya gue agak mual tiap ngeliat yang namanya cinta-cintaan. Mungkin ini yang dinamakan mekanisme defensif diri yang patologis (gue lupa jenisnya apa yang kayak gini, tapi ada). Jadi, masalah klasik ini jugalah yang membuat hari-hari seorang jomblowan dan jomblowati yang sedang kasmaran lebih berwarna daripada yang nggak punya gebetan hehe.
Sepertinya gue udah agak lupa dengan bagaimana menyukai seseorang setelah sekian lama sehingga untuk memulai progres yang lebih berarti pun nggak tahu harus mulai dari mana. Secara gue perempuan juga, harus jaga harga diri dan gengsi di depan orangnya (meski mungkin dia nggak pernah sadar akan keberadaan gue) dan itu membuat para jomblowati (seperti gue) nggak banyak berharap kecuali ada keajaiban datang berjodoh dengan si gebetan entah pakai perantara apa yang difasilitasi sang Khalik. Kata saudara cowok dan teman-teman cowok gw juga begitu, cewek ditakdirkan untuk dipilih, jadi pilihannya ya berdoa, menunggu, boleh sedikit usaha, tapi jangan frontal. Di sisi lain teman-teman perempuan gue sedikit-banyak juga memberi nasehat yang sama, intinya kalau jodoh nggak kemana. Sounds cliche, but from that words i think that’s not too pathetic to be done.
Setelah sekian lama baru bisa suka lagi sama orang lalu yang harus gue lakukan sekarang menunggu? Hmm.. berharap semoga orangnya sedikit menyadari akan keberadaan gue agak sulit, tapi lebih sulit lagi untuk menghilangkan perasaan ini ketika sudah jadi kronis, hehehe. Kalaupun gue hanya bisa berusaha, paling cuma bisa ‘cuap-cuap’ di dunia tanpa batas alias dunia maya yang mungkin siapa tahu dia membaca dan sedikit merasa geer. Itu juga kalau orangnya seneng, syukur alhamdulillah, kalau ilfil? hmm.. lain cerita yaa
Paling nggak sekarang hidup gue lebih berwarna cerah meski entah prognosis ke depannya seperti apa.. That’s what i called love. <3
Februari 1, 2011 pada 2:31 am
wah ini postingan saya suka
saya setuju, jodoh ga bakal kemana. lagian ngapain pacaran, buang2 waktu dan uang hahaha