Posted by: nengpeni on: Juli 29, 2010
Judulnya pakai bahasa Inggris, tapi sebenernya ingin menulis dalam bahasa Indonesia hehe.. Numpang curhat sedikit nih, dewasa ini pemakaian judul dalam artikel maupun tulisan sekalipun berbahasa Indonesia banyak ditulis dalam bahasa Inggris, supaya terlihat keren? mungkin.. tapi saya pribadi menuliskannya dalam bahasa Inggris karena sudah terbiasa membaca artikel berbahasa asing (saking asingnya suka banyak yang tidak dimengerti kosa kata asingnya :p) namun masih harus belajar banyak menulis dalam bahasa asing yang satu-satunya saya lumayan kuasai, bahasa Inggris
Mengapa saya menuliskan postingan blog dengan tema ini?Menyiasati nyeri terapi kecantikan, ya umum sekali judulnya. Saya mengerucutkan tema tersebut menjadi beberapa tips dan trik untuk mengatasi nyeri yang sering sekali dirasakan ketika melakukan terapi kecantikan, seperti slogan lama, beauty is pain, benar banget, sungguh menyiksa ternyata untuk menjadi cantik (meski belum tentu dilihat seperti itu di mata orang lain, ironis.. >.<). Walaupun banyak terapi kecantikan yang sebenarnya bertujuan untuk memperindah fisik seseorang, namun tak jarang pula rasanya tak seindah dengan angan-angan yang ingin dicapai dari perawatan dan terapi tersebut. Curhat sekali lagi, hari ini untuk ke sekian kalinya saya harus merelakan diri saya disiksa dengan sepenuh hati dalam rangka ‘diterapi’.
Khususnya untuk kaum hawa, segala usaha untuk menjadikan penampilan maksimal dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah hal yang umum. Saya sendiri mulai menjadi ‘genit’ merawat tubuh sejak duduk di bangku kuliah. Sadar penampilan itu penting, maka saya mencoba beberapa terapi kecantikan, dari yang umum, sampai yang terdengar aneh dan tidak biasa. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan keremajaan kulit makin berkurang saya kini harus membiasakan diri (dan dompet) tersiksa dengan serangkai ritual perawatan tubuh dan kulit. Perawatan tersebut tidak banyak, namun yang selalu saya rutin lakukan adalah facial dan waxing. Sedihnya dua hal ini yang benar-benar membuat saya (dan mbak-mbak atau jeng-jeng lain) bisa merasa sangat tersiksa dalam waktu 20 menit, 1 jam, hingga berjam-jam karena terapi tersebut
.
Facial sendiri adalah sebuah perawatan kulit wajah yang ditujukan untuk membersihkan kulit dari komedo, sisa sel kulit mati, serta memberikan vitamin untuk kulit yang diperlukan sehingga kulit diharapkan menjadi bersih, dan terhindar dari jerawat yang memang seringnya disebabkan oleh sumbatan pori-pori karena komedo, lemak dan infeksi bakteri selain karena hormonal. Facial juga bisa disebut ekstraksi atau pengeluaran, dengan cara kulit dibersihkan terlebih dahulu dan dipijat lembut untuk melancarkan peredaran darah, selanjutnya akan diuapi supaya pori-pori terbuka dan memudahkan terapis untuk mengeluarkan komedo dengan sendok lunula. Sendok lunula ini akan ditekan ke permukaan kulit wajah yang akhirnya menyebabkan rasa sakit yang tiada tara. Maka tak heran ketika kurang lebih 2 jam saya berada di ruangan perawatan, di sebelah kanan-kiri bilik saya bisa terdengar suara menjerit kesakitan sampai menangis karena menahan nyeri tiada tara, sama dengan nasib saya.
Sudah setahun lebih saya menjalani rutinitas perawatan facial tersebut dan selalu merasakan sakit yang sama, meski telah menjalani sesi kedua, tiga, empat, lima, dan seterusnya.. Harusnya saya telah terhabituasi (terbiasa) sehingga tidak merasakan nyeri yang sama hebatnya dengan sebelumnya, tapi ternyata hal tersebut tak berlaku. Saya tetap menangis, menjerit, meringis, dan merasakan nyeri yang menjalar kemana-mana (reffered pain). Belum lagi dampak muka yang seperti habis disengat lebah karena pelebaran pembuluh darah atau bahkan bisa berdarah dan terkena komplikasi infeksi yang menyebabkan bertambahnya jerawat sehabis terapi facial.
Hari ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga untuk kunjungan terapi saya berikutnya, yakni menyiasati rasa nyeri dengan beberapa cara yang simpel namun sangat mengena. Terapis saya hari ini, Mbak Tata, memberitahu saya trik yang sangaaaat sederhana, dan saya belum pernah sekalipun melakukannya pada saat sesi terapi selama ini (sudah cukup merasa sanggup selama 2 jam mengernyit, meringis menahan sakit). Trik tersebut tak lain adalah tidak menutup mata dengan kapas saat melakukan terapi ekstraksi komedo, melainkan dengan menatap cermin saat wajah dipencet sendok lunula! Cara tersebut sangat membantu saya dan membuat saya jauh berkurang mengalami rasa sakit dan nyeri karena disiksa oleh sendok lunula yang dipakai Mbak Tata, dengan sedikit sugesti (dan saya memang termasuk orang yang gampang disugesti) cara ini amat mujarab, dibanding saya harus konsentrasi berusaha relaks ketika menahan rasa nyeri dengan menutup mata saat difacial.
Dengan keadaan tersebut sebenarnya memang memiliki beberapa keuntungan dibandingkan pasien terlentang sambil memejamkan mata mencoba untuk menahan rasa sakit dan menjerit tertahan belaka. Ketika saya tadi membuka mata dan memegang cermin di depan wajah saya sambil diekstraksi berarti saya melihat sendiri apa yang dikerjakan oleh terapis, sedangkan kalau memejamkan mata, terkadang sambil menahan sakit saya diselimuti rasa penasaran, sebenarnya sendok lunula itu diapakan ke kulit saya sehingga begitu nyeri terasa di ujung syaraf saya
Selanjutnya komunikasi antara pasien dan terapis bisa lebih baik, hal ini berguna untuk mengalihkan perhatian pasien dari rasa nyeri dengan ngobrol sedikit demi sedikit dan mengurangi nyerinya. Pada beberapa pasien mereka merasa senang ketika melihat sendiri bagaimana si komedo menyebalkan tersebut dikeluarkan (seperti saya terkejut betapa ahlinya Mbak Tata bisa tahu di mana komedo-komedo yang tak tampak di permukaan ketika dipencet dengan sendok lunula dia muncul, dan besaaaaar sekalii
)
Baiklah lanjut ke perawatan selanjutnya, yakni waxing. Pasti tidak asing mendengar kata satu ini, tapi masih bingung dengan apa yang sebenarnya dilakukan pada terapi ini? Oke, saya jelaskan singkatnya waxing itu sebenarnya dari kata dasar wax (lilin) namun kini yang banyak dipakai adalah gula yang dipanaskan atau biasa disebut juga dengan sugaring. Tujuan waxing/sugaring ini adalah mengangkat rambut-rambut halus di bagian tubuh yang tidak diinginkan. Macam-macam jenis perawatan yang tersedia, misalnya underarms waxing, bikini waxing, brazilian waxing, face waxing, leg and hands waxing, dsb. Dengan melakukan waxing maka kulit terlihat lebih mulus dan meningkatkan rasa percaya diri tentunya. Adapula alasan lain selain untuk estetika yakni untuk kesehatan. Seperit pada bikini waxing/brazilian waxing yang ditujukan untuk organ keintiman wanita, sebenarnya hal ini juga bisa mencegah organ kewanitaan dari berbagai jamur candida yang bisa berpenghuni di dalam sana, menyebabkan gatal, panas, serta keadaan yang sangat tak menyenangkan karena kelembaban begitu tinggi di daerah kewanitaan yang tertutupi rambut pubis.
Teknik sugaring ini caranya dengan memanaskan gula tersebut (jadi seperti caramel) lalu dioleskan ke bagian yang ingin di wax selanjutnya dengan kain perca ditempel, dan ditarik ke arah yang berlawanan dengan tumbuhnya rambut halus tersebut. Rasanya seperti apa? WOOOOW sakit luar biasa!! Seperti saat difacial bilik kanan-kiri saya selalu ramai dengan jeritan kesakitan bahkan sampai tendang-menendang (biliknya sempit sih, jadi heboh ruangan sebelahnya, hihi).
Hari ini pula saya mendapat pelajaran, intinya fokuskan pikiran (tetap susah ya) pada rasa setelah ditarik kain perca, jangan memikirkan rasa saat ditariknya.. Perlu latihan memang, tapi tadi 2-3 kali mencoba saya sudah berhasil sehingga keinginan menjerit hanya maksimal 3 kali :p Dibanding waxing, threading jauh lebih menyakitkan, dengan seutas benang, terapis akan merapihkan rambut-rambut halus yang tersisa dari sugaring tersebut. Sekali lagi, fokuskan pikiran kepada hasil akhir (kulit mulus tanpa rambut menyebalkan itu) yang kita mau, jangan pada rasa saat dithreadingnya.
Pada akhirnya tetaplah semua yang bagus itu memerlukan kerja keras dan pengorbanan serta terkadang rasa yang tidak mengenakkan. Kalau dihitung-hitung untung-ruginya memang rasa nyeri tersebut tak sebanding buruknya daripada harus mengeluh saat jerawat muncul dimana-mana akibat tidak diekstraksi kotoran dan komedonya, atau merasa risih akan rambut-rambut di bagian tubuh yang tidak berkenan. Sekali lagi, semuanya menjadi pilihan kita sendiri, tapi jangan pernah lupaa.. bahwa menjadi cantik memang butuh usaha, baik yang enak maupun yang terlihat ‘menyiksa’
Agustus 3, 2010 pada 1:57 am
peniiiiiiii gw add link yaaak!
gw baru beberapa minggu yang lalu facial untuk pertama kalinya pen, dan i’ve tried everyway to reduce its pain! dari pura-pura nggak ngerasa sakit, sampe pura-pura mengirimkan sinyal ke otak bahwa yang dipencet2 nggak sakit. but still, it won’t lose the pain hahahaha! dan seminggu lebih habis facial tiap ngaca gw pasti pegang2 muka
and don’t you realize, facial is addictive!