Posted by: nengpeni on: Juli 6, 2010
Pernah dengar kalimat, “Your twitter shows who you are?” mungkin ungkapan ini familiar banget di antara pengguna situs mikroblogging twitter. Yeah, twitter yang fenomenanya semakin menjamur jadi tumpahan isi hati banyak orang kini. Meskipun isi ‘celotehan’ masing-masing orang bervariasi, tapi tetap tidak bisa dipungkiri kalau curhat lebih banyak menggunakan twitter dibanding status di situs jejaring sosial. Kalau kata teman saya, twitter itu seperti ‘tong sampah’ atau akuarium, atau obat narkotik, saking mereka teradiksi dengan twitter yang bisa membuat seseorang lupa sekitar, bahasa gaulnya, “autis”.
Saya setuju dengan pendapat teman-teman saya tentang analogi situs twitter tersebut. Isi dari twit banyak merefleksikan diri kita sendiri maupun pemikiran dan parahnya penelitian menunjukkan bahwa dari isi twitter seseorang bisa terlihat kepribadian dan sifatnya tanpa ditutup-tutupi! Ternyata twitter benar-benar seperti akuarium yang terisi air jernih di mana semua orang bisa melihat isi ikan-ikan di dalamnya tanpa terkecuali bukan? Meskipun akun twitter telah dikunci sekalipun, orang-orang yang mengikuti timeline akan tetap mendapati celotehan kita tiap detiknya yang sudah diposkan di sana. Maka berhati-hatilah dengan isi twitter…
Bagaimana dengan suara hati yang tercurahkan lewat twitter? Hm ada kontra dan pro dengan satu ini. Di satu sisi, ada orang yang berpendapat lebih baik isi hati dicurahkan daripada dipendam, dan mereka pun memilih twitter untuk jadi tempat pembuangannya karena bisa diupdate kapan saja, dan dianggap lumrah jika status diupdate dalam selang waktu beberapa menit/detik (!) Beberapa lainnya tidak menganggap bahwa sesuatu yang ada di kehidupan sehari-hari (terutama yang menyangkut hati) layak diposkan di situs mikroblogging karena tidak pantas untuk dibaca oleh khalayak umum, meskipun hanya beberapa (puluh/ratus/ribu) followers di timeline. Padahal apapun pendapat masing-masing, tiap orang yang sudah mengikuti timeline seseorang harus sudah siap untuk menerima curahan celotehan twitter orang-orang yang difollownya, begitupula sebaliknya jika tidak ingin dapat setumpuk curahan hati (yang hampir 60%) dari rata-rata twitter tiap orang/harinya ya berhenti saja mengikuti timelinenya, bukan?
Masalah yang terjadi saat mencurahkan isi hati di twitter adalah saat mungkin beberapa orang yang mengikuti timeline kita mengalami kesalahpahaman tentang isinya. Bisa jadi tersinggung, marah, senang, atau merasa dialah yang menjadi subjek tumpahan isi hati kita saat itu. Sebenarnya asalkan isi hati yang dicurahkan masih dalam batasan wajar dan tidak melanggar hukum dan SARA wajar-wajar saja dan tidak bermasalah. Hanya saja, mungkin ada beberapa orang yang rasa ingin tahunya sangat besar sehingga menimbulkan paham yang tidak enak kepada orang yang menuliskan isi hatinya di timelinenya. Perlu beberapa klarifikasi yang benar agar tidak menimbulkan masalah berikutnya atau malah-malah jadi bertengkar pada akhirnya!
Pada akhirnya, apapun isi status mikroblogging yang ditulis seseorang adalah haknya untuk mengekspresikan diri, namun tetap ingat pada batasan kebebasan yang bertanggung jawab, seperti pada beberapa kasus yang menyeret banyak orang ke jalur hukum hanya karena update status. Terlihat sepele memang, tapi sekali lagi hidup di zaman yang semakin canggih membuat kita semakin harus berhati-hati dalam bertindak, karena teknologi yang semakin canggih tak hanya mempermudah kehidupan, namun bisa jadi bumerang untuk kita sendiri